Strong to be fitted
Lingkungan rangorang pas bocil tuh mirip-mirip ngga si?, eh bukan lingkungan ya, budaya? Hmm beda suku beda budaya dong ya?, kalau how things work?, maksudnya the way "ketua geng" becoming ketua geng and had his/her own "power and law".
Kalo jaman gua si, dari jaman TK sampai SMP entah sampai SMA juga atau ngga, kita tuh suka "adu kekuatan", buat membuktikan kalo kita itu kuat *Physically*. If you need to name it, hmm contohnya kuat-kuatan "gendong tuan putri" (Gendong didepan trus kepala temen you di satu lengan, trus dengkulnya di lengan sebelahnya). Serius itu cara gendong terberat cuy, dan masih ada lebih banyak lagi kegiatan fisik yg dijadikan bocah-bocah buat membuktikan siapa yg kuat dan ngga. Gua ngga tau siapa yg mencetus, tapi hisssh anda sangat menyebalkan, pertumbuhan tinggi gua terganggu gegara angkat beban dari kecil.
Walaupun gua yakin banget gua udah membuktikan bahwa I was strong enough, tapi beberapa kali gua tetep jadi outcast hehe. Apalagi kalo wang eonni sudah bertitah. Trus at some point when the smoll me realized that I thought I actually was strong, akhirnya coba buat pukul balik, dan I did, she said it hurt tapi doi beserta pion-pionnya makin menjauh. I knew I was taking it out on a smaller folk and end up behaving like her. But I'm glad that her mother was sangar bin galak bet men, so I stopped.
Alhamdulillah I was stranded away from this environment as I grown up. Walaupun dalam perjalanannya, entah kenapa, acting strong felt necessary and was a part of me, sampai ada banyak julukan semacam lanang, the boy, abang. Mungkin akibat dari labelling? Atau labelling itu bagian dari produk? Wakanai, tapi entah apa emang bagian dari character development, kadang masih suka kebawa hehe.
Komentar
Posting Komentar