Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2021

Teladan Zaman Ini

Malu rasanya, padahal gua muslim dari lahir, tapi ngga ada kontribusi apa-apa untuk umat. Padahal muslim yang baik adalah yang paling bermanfaat bagi lingkungannya, komunitasnya, muslim yang lain. Gua takut jangan-jangan, ditahap ini, gua malah udah membuat orang men-cap muslim itu kurang baik, karena hal yang pernah gua lakukan, atau malah kebiasaan gua :'. Respek banget sama koh steven, maasya Allah, tabaarakallaah, semoga Allah memberikan keberkahan kepada gua dan kepada beliau. Wallahi, dia itu orang yang Allah beri kecerdasan lebih. Hal itu yang Allah jadikan jalan beliau menuju islam. Walaupun, cerita awal beliau karena iseng, tapi maasya Allah, Allah memberikan pintu hidayah dan sungguh gua bersaksi, beliau adalah orang yang baik dan orang yang hebat. Walaupun baru tahun 2000an masuk islam, beliau itu sudah menjadi definisi muslim yang memanfaatkan seluruh bakatnya untuk menegakkan agamanya. Dan bakatnya sangat besar. Gua juga nonton cerita beliau di yutup, insya Allah, atas...

Trust Issues

 Tau ngga?       Dulu pas awal² kuliah dijogja, gua anti banget manggil kakak angkatan dengan embel² "mas", dan itu bertahan sampai semester 2. Ngga tau ya?!, Geli aja gitu manggil seseorang dengan sebutan "mas" karena, ya... It's feels really awkward because in my mind "that word" means you have a personal relationship toward them, padahal, deket sama kakak angkatan, satu pun takde.        Kalo disini, daerah gua, kata itu tu semacam panggilan "aa", not in sundanese ways, but betawian. Karena "aa" disini refer to kakak, it means you have a blood relation near or far, atau lu deket atau "deket" with that person.        Kalo panggil "abang" mah biasa, toh gua pas SMA dipanggil abang. Dan dari dulu emang udah biasa "abang" digunakan untuk panggil pedagang kaki lima dan abang angkot, jadi konotasi "abang" itu not related to something personal or special.          Ngga penting sih, tapi jadi kepik...